|
Ketua umum DPP PDIP Megawati Soejarna Putri kemarin blusutan di Sawah. Sekitar 30 menit Mega berbecek becek di tengah Sawah Subak Tebola, Dusun Tebola, Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Karangasem.
Ya saat itu Mega sedang mengadakan Panen Padi jenis MSP (Mari Sejahtrakan Petani). Mega tiba sekitar pukul 11.00 wita bersama dengan suaminya Taufick Kiemas serta ketua DPD PDIP Bali AAN Ratmadi. Nampak hadir juga Wabup Bali terpilih PDIP AAN Puspayoga. Mega saat itu menggunakan baju batik warna biru dan celana seperempat berwarna biru. Sementara sang suami Taufick Kiemas mengunakan Celana hitam dan kemaja hitam. Begitu tiba Maga langsung diajak turun ke sawah untuk melakukan panen padi yang berasal dari bibit bantuan dari PDIP. Karena lokasi penanaman yang cukup jauh, Mega sempat diajak berjalan di pematang sawah sejauh 300 meter. Sekalipun harus berbecek becek putrid Bung Karno yang bertekad akan maju menjadi Presiden RI kembali nampak tetap sumringah. Mega saat itu juga mengenakan topi khas yang digunakan para petani. Disawah yang ditaman bibit bantuan dengan nama MSP tersebut Mega sempat berbincang bincang dengan ibu ibu petani yang juga sedang penen pagi. Malah mereka sempat foto bareng dengan mantan Presiden ke 4 RI tersebut. Mega sendiri mendapat penjelasan soal kwalitas padi MSP tersebut dari Wayan Pali dari Deperteman Pertanian DPD PDIP Bali. Menurut Pali padi jenis ini lebih unggul. Bahkan bisa dilakukan dua kali penen. Panen pertama pada umur 95 hari. Kemudian usai di sabit dahanya bisa tumbuh lagi. dan di pupuk serta di belihara dengan baik maka setelah penen pertama 60 hari berikutnya bisa penen untuk kedua kalinya. Hanya saja hasil penen kedua turun sekitar 30 persen dari penen pertama. Mega sendiri sempat membandingkan bulir padi dari MSP dengan padi lainya. Ternyata yang dari MSP lebih montok. "Ini kayak saya...gemuk," ujarnya sambil disambut cekikikan ibu ibu petani. "Nasinya enak ngak....?," tanya Mega. Menurut Pali nasinya lebih pulen mirip dengan nasi beras Bali. Sementara dari segi penghasilan petani bisa lebih untung kalau menanam padi jenis ini. Kalau padi biasa per hektarnya hanya mencapai 7 ton, namun dengan jenis ini petani bisa menghasilkan 14 ton per hektarnya. "Kita telah ujicoba di Negara mencapai 14 ton per hektar dan di Denpasar 12 ton," beber Pali. Sementara untuk bibit petani lebih irit dan efisien. Karena untuk satu hekrat hanya diperlukan 1 kg bibit jenis MSP. Sedangkan untuk padi biasa bisa sampai 10 kg per hektarnya. Di Karangasem sendiri telah dilakukan ujicoba seluas 1 haktar dan 35 are diantaranya di Subak Tebola, Sidemen. Bibit ini ditemukan 20 tahun lalu oleh Surono Danu kader PDIP di Lampung. Bibit ini dihasilkan dari perkawinan antara Dayang Rinduserende dengan Skem putih-kuning. Hanya saja selama ini bibit belum disebarluaskan. Namun tahun 2009 nanti rencananya bibit unggul tersebut akan di sebarkan di Bali. Malah akan di bagikan mbibit secara gratis untuk petani di Bali. Malah ditarget tahun 2009 65 persen petani di Bali sudah menanam padi jenis ini. Usai melakukan panen pagi Mega bersama rombongan langsung dijamu disebuah rumah makan di kawasan Persawahan di Subak Tebola. Sementara itu semua pengurus DPC PDIP Karangasem dan wakil rakyat Karangasem nampak hadir dalam kegiatan tersebut. |