|
Page 1 of 3
Pariwisata
di Bali sekarang sedang mengalami lesu darah. Banyak pelaku di industri ini
pasrah menerima keadaan dan yang lainnya berharap cemas bahwa sektor penyumbang
devisa terbesar ini akan bangkit lagi. Namun entah kapan atau sampai kapan mereka bisa bertahan.
Kita memang tidak bisa mem-blame siapapun
dalam hal ini. Teroris? Mungkin saja mereka adalah pemicu bencana. Namun kenapa
pariwisata belum bisa bergairah lagi seperti dahulu.
Beberapa pengamat mempunyai pendapat berbeda
menyikapi keadaan pariwisata sekarang ini. Sekelompok pelaku dan pengamat
pariwisata malah menyarankan kepada pemerintah agar sekaranglah saatnya semua
komponen pelaku pariwisata memikirkan kembali bentuk/pola pengembangan
pariwisata yg tepat untuk Bali. Harus kita sadari bahwa banyak masyarakat lokal
Bali yg meragukan manfaat pariwisata terhadap kemakmuran masyarakat Bali. Sepintas
kita amati memang betul bahwa derap pembangunan fisik di bidang pariwisata
tumbuh bak jamur di musim hujan. Mulai dari pembangunan villa-villa liar sampai
mega proyek milyaran dollar dibangun di Bali. Namun pertanyaannya adalah berapa
persen kontribusi-nya terhadap kemakmuran masyarakat Bali. Memang tidak bisa
kita pungkiri bahwa pembangunan sarana penunjang pariwisata tersebut telah
membantu mengurangi jumlah angka pengangguran di Bali. Kenyataan di lapangan yg
terjadi bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor ini ternyata belum maksimal
pula digarap oleh orang lokal. Kenapa ini bisa terjadi?
Kita semua sudah mahfum bahwa pemilik
hotel dan restaurant yg ada di Bali sebagian besar adalah investor luar baik
itu domestik maupun luar negeri. Yang celakanya adalah ketika investor itu
adalah orang luar domestik maka mereka akan membawa titipan tenaga kerja
non-Bali. Dengan berbagai dalih mereka akan berusaha untuk memasukkan
orang-orangnya ke struktur management dan peran orang lokal Bali adalah semata
sebagai pelengkap dalam arti jarang mendapatkan posisi di level management.
Kita tidak bermaksud untuk mewacanakan hal
ini menjadi fanatisme kedaerahan, namun adalah wajar kalau orang Bali
mempertanyakan realita ttg manfaat riil Pariwisata terhadap keberlangsungan daerah
dan budayanya.
Kalau kita amati perkembangan pariwisata
di Bali memang belum mempunyai arah yg jelas. Dari semenjak dahulu ketika saya
masih duduk di bangku kuliah sebuah lembaga pendidikan pariwisata terkenal
satu-satunya yg ada di Bali kala itu, pemerintah menggaungkan wacana pariwisata
budaya. Akan tetapi realitas yg ada di lapangan, budaya Bali entah itu budaya
seni tari, seni lukis maupun seni lainnya belum mendapatkan tempat yg terhormat
dalam kancah gemerlap dollar pariwisata. Bahkan sering kita amati, penari dan
penabuh dari sekaa2 di desa diangkut dengan truk kotor berdebu layaknya sapi
dan galian C. Akankah ini berubah?
|